SURABAYA, BeritaCakrawala.co.id - Diera serba digitalisasi 4.0 Menuju 5.0 membuat sebagian kalangan selalu berpacu oleh waktu dan kemajuan teknologi yang serba modern. Society 5.0 sendiri baru saja diresmikan 2 tahun yang lalu, pada 21 Januari 2019 dan dibuat sebagai resolusi atas resolusi industri 4.0.
Hal itu pula yang membuat banyaknya bermunculan Organisasi Pers yang dibarengi dengan tumbuh kembangnya Media Online.
Organisasi Pers sendiri dibentuk untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kualitas serta kuantitas pers nasional.
Pers adalah: Lembaga media massa.
Wartawan adalah: orang yang bekerja sebagai jurnalistik. Yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar, majalah, radio, dan televisi (Media Cetak, Online Dan Elektronik) Lainnya. Wartawan disebut juga juru warta atau jurnalis
Jurnalistik adalah: aktifitas yang di lakukan oleh Wartawan/ Standar Operasional Prosedur (SOP) para wartawan dalam berkarya.
Kebebasan pers (freedom of the press) adalah hak yang diberikan oleh konstitusional atau perlindungan hukum yang berkaitan dengan media dan bahan-bahan yang dipublikasikan seperti menyebar luaskan, pencetakan dan menerbitkan surat kabar, majalah, buku atau dalam material lainnya tanpa adanya campur tangan atau perlakuan sensor dari pemerintah.
Secara konseptual kebebasan pers akan memunculkan pemerintahan yang cerdas, bijaksana, dan bersih. Melalui kebebasan pers masyarakat akan dapat mengetahui berbagai peristiwa, termasuk kinerja pemerintah, sehingga muncul mekanisme check and balance, kontrol terhadap kekuasaan, maupun masyarakat sendiri. Karena itu, media dapat dijuluki sebagai pilar keempat demokrasi, melengkapi eksekutif, legeslatif, dan yudikatif. Kebebasan pers pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas demokrasi. Dengan kebebasan pers, media massa dimungkinkan untuk menyampaikan beragam informasi, sehingga memperkuat dan mendukung warga negara untuk berperan di dalam demokrasi atau disebut civic empowerment.
Wartawan adalah orang bebas, sebab wartawan bebas menulis apa yang ia lihat dan ia dengar berdasarkan hati nurani. Fakta bahkan opini berdasarkan kode etik dan UU Pers.
Tak bisa dipungkiri bahwa peran Media cetak, Elektronik, maupun online cukup efektif dan strategis dalam membantu Pemerintah, Swasta dan beberapa kelompok dan individu dalam mengedukasi serta menyampaikan informasi, sekaligus dianggap sebagai jembatan antara harapan dan aspirasi untuk semua.
Wartawan tidak memiliki kategori status sosial yang pasti, pagi ia bisa ngobrol dengan seorang abang becak, siang ia bisa makan bersama para pejabat, sore ia bisa bincang-bincang dengan pemuka agama dan malam ia juga bisa berada di Cafe, Diskotik, dan Bar, maupun tempat lainnya.
Setiap hari ia menyapa publik dengan informasi, tak peduli Informasi yang disajikan itu diapresiasi atau dicaci, untuk memenuhi kewajibannya terhadap publik, wartawan memberikan informasi berdasarkan kebenaran yang diyakininya benar dan chek and richek, terkadang risiko nyawa tanpa ia sadari mengancam dirinya dan keluarganya.
Sungguh profesi yang amat agung, dimana seorang wartawan berperan besar dalam seluruh aspek kehidupan, sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia dikumandangkan ke seantero dunia melalui media oleh seorang wartawan.
Olehnya itu wartawan harus tetap ada, seperti yang dikutip dari salah satu tokoh polri mengatakan, "Wartawan Harus Sehat, Wartawan ini seperti buzzer kerjanya siang malam, keluar kampung masuk kampung ketemu dengan siapa saja, jadi wartawan harus sehat, jika wartawan sehat negara akan sehat, wartawan sakit maka negara akan bahaya".
Sebenarnya, apa itu buzzer? Bagi sebagian besar orang mungkin masih merasa asing dengan istilah ini, namun sebenarnya buzzer ini selalu hadir disetiap ada isu yang trending atau viral.
Dikutip dari liputan 6
Di Indonesia, istilah buzzer sedang banyak dibicarakan di masyarakat, hal ini lantaran banyak yang menyadari bahwa buzzer memiliki pengaruh yang cukup besar di sosial media. Lantas sebenarnya, apa itu buzzer?
Buzzer adalah orang yang memiliki pengaruh tertentu untuk menyatakan suatu kepentingan. Buzzer dapat bergerak dengan sendirinya untuk menyuarakan sesuatu, atau bisa jadi ada sebuah agenda yang disetting. Dalam menyuarakan suatu kepentingan ini dapat dilakukan secara langsung dengan identitas pribadi atau secara anonim.
Seperti yang telah disebutkan di atas, apa itu buzzer adalah sebuah jasa atau orang yang dibayar untuk mempromosikan, mengkampanyekan, atau mendengungkan sesuatu. Istilah buzzer ini telah ada sejak lama, namun di Indonesia istilah ini baru mulai mencuat setelah pemilu 2019. Dulunya, buzzer lebih sering digunakan sebagai strategi pemasaran suatu brand untuk produknya.
Disisi Lain
Begitu penting peran wartawan dalam sendi - sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, namun mengapa kini wartawan dibungkam dengan pasal 310,311,UU ITE, dan upaya paksa mempidanakan wartawan dengan cara - cara yang sangat bertentangan dengan UU Pers dan KIP bahkan HAM.
Wartawan tak perlu dibungkam, wartawan tak perlu dipidana, wartawan itu hanya butuh dibina dan diawasi dengan profesional dan menjadikan UU Pers sebagai satu - satunya alat mengontrol, mengawasi kebebasan Pers di negeri ini.
Wartawan bukan untuk ditakuti, wartawan bukan untuk dibasmi, wartawan penentu masa dapan sebuah bangsa dan kemajuan sebuah negara serta pertahanan negara.
Wahai para pejabat, jangan engkau takut kepada wartawan, jangan engkau takut pada kami yang mengemban tugas social control Bangsa bahkan Dunia.(Red79)
0 comments:
Posting Komentar